Site icon Tahu Ekspres Sumedang

Pariwisata Sumedang dan Kontribusinya terhadap PAD: Antara Peluang dan Tantangan

Mahasiswa Program Studi Magister Pariwisata, Sekolah Pascasarjana UPI Kampus Sumedang. (Foto : Istimewa)

Selama bertahun-tahun, Sumedang dikenal sebagai kota persinggahan dengan ikon kuliner Tahu Sumedang. Namun, dalam satu dekade terakhir, wajah daerah ini perlahan berubah. Sumedang mulai menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu tumpuan baru perekonomian daerah, seiring dengan pergeseran orientasi pembangunan dari sektor agraris menuju sektor jasa.

Perubahan arah tersebut semakin terasa pada periode 2015–2020. Pemerintah daerah mulai memfokuskan pengembangan pariwisata ke kawasan Waduk Jatigede, yang kini diproyeksikan sebagai destinasi unggulan. Dukungan infrastruktur seperti Tol Cisumdawu dan pembangunan jalan lingkar memperkuat optimisme bahwa Waduk Jatigede dapat menjadi game changer bagi perekonomian Sumedang, sekaligus membuka peluang perubahan mata pencaharian masyarakat lokal dari sektor pertanian menuju sektor pariwisata.

Namun, optimisme pengembangan pariwisata tersebut perlu dibaca secara realistis, terutama ketika dikaitkan dengan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hingga saat ini, pariwisata belum menjadi penyumbang utama PAD Kabupaten Sumedang. Retribusi langsung dari sektor ini masih terbatas karena belum banyak objek wisata yang pengelolaan tiket masuknya dapat memberikan kontribusi langsung kepada kas daerah. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, objek wisata yang secara langsung menyumbang retribusi ke PAD baru terbatas pada Objek Wisata Alam Taman Hutan Raya.

Meski demikian, menilai pariwisata semata-mata dari besaran retribusi tiket masuk tentu tidaklah adil. Pariwisata memiliki dampak ekonomi tidak langsung yang signifikan melalui multiplier effect. Aktivitas wisata mendorong pertumbuhan sektor lain, seperti Pajak Hotel dan Restoran (PHR) serta pajak hiburan, yang justru selama ini menjadi penyumbang PAD cukup besar bagi daerah.

Sayangnya, potensi ekonomi tersebut belum tergarap secara optimal. Minimnya infrastruktur akomodasi, khususnya hotel berbintang di sekitar objek wisata utama, menyebabkan lama tinggal wisatawan relatif singkat. Akibatnya, tingkat belanja wisatawan di Sumedang masih rendah dan peluang peningkatan PAD belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Di tengah keterbatasan tersebut, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru tampil sebagai penopang utama ekonomi pariwisata Sumedang. Hubungan antara pariwisata dan UMKM bersifat saling menguatkan. Berbagai event pariwisata, seperti festival paralayang atau trail run, terbukti mampu mendatangkan kerumunan yang berujung pada transaksi nyata bagi pelaku UMKM.

Pemerintah daerah telah mengambil peran penting dengan memfasilitasi keterlibatan UMKM, mulai dari penyediaan tenda gratis saat event berlangsung hingga pelatihan digitalisasi. Produk unggulan lokal seperti Wayang Karikatur, Mangga Gedong Gincu, Ubi Cilembu, dan Batik Sumedang memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas apabila didukung dengan pendampingan yang konsisten.

Ke depan, tantangan utama pengembangan pariwisata Sumedang terletak pada persoalan permodalan, legalitas usaha, serta keterbukaan terhadap investasi. Sinergi antara pemerintah sebagai fasilitator dan sektor swasta sebagai penggerak menjadi kunci agar ekosistem pariwisata dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Jika sinergi tersebut mampu terwujud, pariwisata bukan hanya menjadi etalase keindahan daerah, tetapi juga mesin ekonomi yang tangguh. Lebih dari sekadar destinasi, pariwisata Sumedang berpotensi menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan PAD sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat lokal secara inklusif dan berkelanjutan.

Artikel opini ini disusun sebagai refleksi akademik dari pembelajaran dalam mata kuliah Pariwisata terhadap Perekonomian Global pada Program Studi Magister Pariwisata, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Melalui kajian ini, pariwisata dipahami bukan hanya sebagai sektor hiburan, melainkan sebagai ruang kompleks yang mempertemukan kebijakan publik, dinamika ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Oleh: Lintang Puspa Ningrum, Syahla Karima Musfha, Widi Widya Mukti

Exit mobile version