Site icon Tahu Ekspres Sumedang

Nestapa Warga Surian Berlarut: Jembatan Putus, 25 KK Dusun Bobos Hidup Terisolir

Kondisi jembatan gantung yang rusak di Desa Wanajaya Kecamatan Surian. (Foto : Istimewa/KKN Wanajaya)

Sumedang – Nestapa warga di perbatasan Kabupaten Sumedang, tepatnya di Dusun Bobos, Desa Wanajaya, Kecamatan Surian, kian berlarut. Putusnya jembatan penghubung membuat sebanyak 25 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut hidup terisolir dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

Akibat jembatan rusak parah, seluruh warga RT 11 RW 4 Dusun Bobos terdampak. Berdasarkan data di lapangan, wilayah yang terisolir dihuni oleh 25 KK dengan total 50 jiwa yang menempati 19 rumah. Selain permukiman, terdapat lahan pertanian seluas 35 hektare dan lahan kering produktif seluas 35 hektare yang ikut terhambat aktivitasnya karena akses terputus.

Kepala Desa Wanajaya, Erwan Riswanto, mengatakan jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses utama warga untuk menuju kantor desa dan fasilitas lain. Panjang jembatan mencapai 120 meter dengan lebar badan sungai sekitar 80 meter.

“Jembatan terakhir diperbaiki tahun 2024 oleh relawan Vertical Rescue bergotong royong dengan warga, tapi hanya bertahan sekitar empat bulan karena kondisi tanah yang labil,” kata Erwan saat dihubungi Tahu Ekspres, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah desa sudah berupaya melakukan perbaikan sebanyak empat kali hingga 2025. Perbaikan terakhir dilakukan sebelum Lebaran, sekitar Bulan Maret 2025. Namun kondisi jembatan terus memburuk hingga akhirnya ditutup total sejak Juli–Agustus 2025.

“Diperbaiki oleh desa sudah empat kali sampai 2025. Makin ke sini makin rusak, sekarang rusaknya parah, papan coplok sebagian, jadi ditutup sejak Juli-Agustus 2025 lalu,” ujarnya.

Keterisolasian tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupan warga, termasuk pendidikan dan layanan kesehatan. Anak-anak sekolah dasar di Dusun Bobos yang jumlahnya di bawah 20 orang tidak bisa lagi bersekolah di SD terdekat yang berjarak sekitar 800 meter. Akibat jembatan rusak, mereka harus bersekolah ke desa tetangga, yakni wilayah Pasir Ipis, Desa Karangbungur, Kecamatan Buahdua.

Untuk layanan kesehatan, sasaran posyandu di Dusun Bobos tercatat sebanyak enam orang. Namun kegiatan posyandu tidak bisa dilakukan secara normal sehingga kader harus melakukan sistem jemput bola ke lokasi warga.

Selain itu, akses pemakaman juga menjadi persoalan serius. Warga Dusun Bobos biasanya menuju tempat pemakaman umum di Desa Wanajaya dengan jarak sekitar 1,5 kilometer yang harus melewati jembatan. Karena jembatan rusak, warga terpaksa menandu jenazah melalui aliran sungai. Pada tahun-tahun sebelumnya, kondisi tersebut bahkan sempat terekam dalam video dan viral di media sosial hingga masuk media televisi nasional.

Sebagai alternatif, warga sebenarnya bisa melalui jalur Desa Hariang, Kecamatan Buahdua. Namun jalur tersebut memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam karena harus memutar jauh menuju kantor Desa Wanajaya.

Erwan mengakui keterbatasan anggaran membuat pemerintah desa belum bisa melakukan perbaikan lanjutan. Berbagai upaya telah dilakukan dengan meminta bantuan ke sejumlah pihak.

“Tidak ada upaya perbaikan karena keterbatasan anggaran. Kami minta bantuan lagi ke Vertical Rescue tapi tidak ada respons. Minta bantuan ke Kodim sudah, ke Dinas PU sudah, ke Brimob juga sudah di-assessment oleh Danyon,” ucapnya.

Menurut Erwan, pihaknya menerima informasi bahwa perbaikan jembatan akan dilakukan melalui Program Garuda dari KSAD.

“Informasi yang A1, melalui Program Garuda KSAD akan segera diperbaiki. Program Garuda realisasinya sudah sejak kemarin, 20 Januari 2025,” katanya.

Meski saat ini sedang dilakukan perbaikan melalui program Garuda dari KSAD, pemerintah desa tetap menyiapkan gerakan masyarakat untuk bergotong royong memperbaiki jembatan sambil menunggu bantuan penanganan juga dari dinas terkait.

“Kami dari pihak desa menyiapkan gerakan masyarakat supaya bisa bergotong royong memperbaiki jembatan. Sebetulnya program Garuda dari KSAD sudah berjalan sejak kemarin, tapi kami juga meminta supaya dinas terkait turun tangan membantu,” ujarnya.

Erwan menegaskan, kondisi keterisolasian warga Dusun Bobos sangat dirasakan hingga saat ini.

“Warga kami yang 25 KK di RT 11 itu benar-benar terisolir untuk menempuh kantor desa. Bahkan saya selama menjabat sebagai kepala desa tidak pernah salat Idul Fitri di dusun itu karena terisolir,” pungkasnya.

Exit mobile version