Sumedang – Desa Karedok memiliki cara tersendiri dalam menjaga warisan leluhur. Melalui tradisi Hajat Lembur atau yang akrab disebut Ngarot (Ngaruwat Lembur), masyarakat setempat terus melestarikan ritual adat yang telah berjalan selama 124 tahun.
Namun, di balik kemeriahannya, tradisi ini menyimpan kisah mistis tentang konsekuensi fatal bagi mereka yang mencoba menghentikannya.
Inti dari tradisi Ngarot adalah penyembelihan kerbau (mencit munding). Bagian kepala kerbau kemudian dikubur di Alun-alun desa, tepatnya di bawah pohon beringin yang kini telah berusia lebih dari satu abad.
Ritual Kepala Munding di Pohon Beringin
Ya, pohon bringin keramat tersebut sampai saat ini masih hidup dan memberikan kesejukan di tengah Alun-alun Desa Karedok.
Salah seorang tokoh, Intab Wikarya Putra, menuturkan bahwa meski kepala kerbau yang dikubur mengelilingi pohon bringin itu dilakukan setiap tahun, bagusnya tak pernah ada bekas atau sisa-sisa yang terlihat kembali.
“Sudah 124 tahun tradisi ini berjalan, berarti sudah ada 124 kepala kerbau yang terkubur di sana,” Ujar salah satu tokoh masyarakat Desa Karedok, kepada Tahuekspres.com pada Rabu (11/02/2026).
Sementara bagian kepala dikubur sebagai simbol penghormatan terhadap alam, dagingnya dibagikan kepada seluruh warga desa untuk dinikmati bersama.
Kepercayaan masyarakat terhadap kesakralan ritual ini sempat goyah pada tahun 2008. Saat itu, pemerintah desa sempat mencoba mengubah tata cara ritual agar tidak lagi mengubur kepala kerbau karena dianggap mubazir.
Namun, keputusan tersebut kabarnya diikuti oleh rentetan peristiwa nahas yang mengguncang desa.
Hanya dalam kurun waktu satu minggu setelah hajat dilaksanakan tanpa prosesi adat yang lengkap, jembatan permanen di desa tersebut runtuh akibat banjir bandang.
Selanjutnya, terjadi kebakaran rumah warga hingga puncaknya, sang Kepala Desa saat itu meninggal dunia akibat serangan stroke saat sedang memimpin rapat pertanggungjawaban pengelolaan keuangan desa.
Sejak rentetan kejadian tragis tersebut, justru membuat keyakinan masyarakat Desa Karedok terhadap tradisi Ngarot semakin kuat.
Upaya untuk mengikis tradisi tersebut kini nyaris tidak ada lagi karena warga merasa ada keseimbangan alam yang harus dijaga melalui ritual tersebut.
Selain sebagai bentuk penghormatan leluhur, tradisi ini juga menjadi momen pengabdian bagi para tokoh daerah.**
