Memperkuat Jati Diri Trah Cipaku Melalui Adat Tradisi khas Kerajaan Tembong Agung

Sumedang – Kegiatan Hajat Bakti Tembong Agung yang digelar pada tanggal 14 Muharam 1448 Hijriah di kawasan Makam Prabu Lembu Agung, Desa Paku Alam, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, kembali menjadi ajang pelestarian sejarah dan nilai budaya bagi masyarakat Trah Cipaku.

Ketua Pelaksana kegiatan, M Nurul Ridwan menjelaskan bahwa kepanitiaan dibentuk secara gabungan untuk menjaga kelangsungan tradisi ini.

“Panitia terdiri dari unsur Kasepuhan yang dipimpin Ki Wangsa dan Abah Gayus, perwakilan dari Abah Gayus serta para Kuncen di lingkungan Maqom Karomah Istana Gede Cipaku, kepemudaan melalui Karang Taruna Desa Pakualam, dan juga perangkat pemerintahan desa,” ujarnya dalam wawancara.

Menurutnya, acara ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan merupakan warisan dan amanah dari leluhur yang harus terus dijaga keberadaannya.

“Alhamdulillah partisipasi anak muda melalui Karang Taruna sudah terlihat, mereka bahu-membahu dalam pelaksanaan kegiatan yang juga meliputi pengajian pada siang hari,” tambahnya.

Untuk pengembangan ke depannya, pihak panitia berencana memperluas jangkauan kegiatan.

“Kami berharap dalam waktu dekat, acara Mukaraman ini bisa diselenggarakan dengan lingkup yang lebih luas, tidak hanya terbatas di situs makam, namun bisa digelar di tengah pemukiman atau lingkup desa secara keseluruhan,” ungkap M Nurul Ridwan.

Dalam kesempatan yang sama, ia menekankan pentingnya pengenalan asal usul bagi generasi muda.

“Harapan kami, acara ini dapat terus berjalan berkelanjutan. Hal terpenting adalah kita tidak pernah melupakan jasa leluhur dan tidak melupakan asal usul kita. Dalam budaya Sunda, hal ini disebut menjaga ruwadaksi,” tegasnya.

Selain kegiatan tahunan, pihak Kasepuhan dan paguyuban terkait juga rutin melaksanakan kegiatan bulanan berupa kliwonan. Kegiatan ini diisi dengan tawasulan, dzikiran, sholawatan serta penyajian materi budaya dan sejarah Tembong Agung.

“Di kegiatan tersebut kami juga melakukan diskusi dan berbagi ilmu mengenai sejarah peradaban Tembong Agung yang sangat kaya,” tambahnya.

Sementara itu, Tokoh Kebudayaan sekaligus pemimpin Kasepuhan Ki Wangsa menjelaskan bahwa kegiatan tahunan ini mengangkat tiga poin utama yang menjadi inti dari tradisi leluhur.

“Inti dari kegiatan Muharaman ini ada tiga hal utama, yaitu menyampaikan pesan sejarah, melakukan ritual tradisi, serta doa dan selawat,” jelasnya.

Pertama, aspek sejarah yang diangkat melalui buku berjudul Kitab Waruga Jagat Babon Manusia. Ki Wangsa menjelaskan bahwa kitab asli awalnya ditulis pada bahan kulit, sebelum kemudian disalin ke kertas sekitar tahun 1500 Masehi, dan dialihbahasakan ke bentuk tulisan Pegon pada tahun 1530 Masehi oleh Pangeran Santri.

“Isi kitab ini memuat silsilah dan nasab Nabi Syits yang dipercaya telah menyebar dan berdiam di wilayah Sumedang dan Sunda Kulon. Menurut catatan tersebut, Nabi Sis hidup di kawasan yang kini dikenal sebagai Sumedang. Wilayah tersebut dulunya merupakan rangkaian pegunungan yang luas hingga ke wilayah Jagat Buana, namun berubah bentuk akibat peristiwa alam,” urainya.

Kedua, terdapat ritual tradisi ngalokat Cai, yaitu kegiatan menyatukan beberapa sumber mata air menjadi satu titik. Menurut Ki Wangsa, tradisi ini sudah berlangsung ribuan tahun sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian terhadap alam.

Ketiga, kegiatan berupa selawat dan doa untuk memperoleh syafaat, khususnya berdoa di lokasi Parawali yang dipercaya memiliki karomah dan keberkahan.

Kegiatan yang digagas oleh Rijalul Goib (RG) ini, dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai upaya memperkenalkan warisan budaya dan sejarah kepada generasi penerus di lingkungan Trah Cipaku.

Sekretaris Kecamatan Darmaraja, Asep Hidayat menyatakan bahwa pihaknya akan senantiasa memberikan dukungan penuh dan pelayanan terbaik untuk setiap kegiatan masyarakat.

Asep menuturkan, kemajuan bersama dapat diraih dengan memperhatikan tiga poin utama di era saat ini. Yakni, agama, budaya dan digital.

“Melalui acara ini, kami berharap dapat menjadi momen untuk mempererat silaturahmi dan menjadi wujud bakti kita semua kepada Kerajaan Tembong Agung, sekaligus memperkuat tali persaudaraan antarwarga desa, khususnya trah Cipaku dan umumnya masyarakat yang lebih luas.” katanya memungkasi.*

Exit mobile version