Sumedang – Sejumlah mahasiswa Program Studi Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melaksanakan kegiatan Stase Komunitas di Desa Rancamulya, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, selama empat minggu pada Oktober 2025. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui edukasi, promosi, dan pencegahan masalah kesehatan.
Kegiatan praktik klinik lapangan tersebut mendapat dukungan dari UPTD Puskesmas Kota Kaler, Pemerintah Desa Rancamulya, dan masyarakat setempat. Melalui Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), mahasiswa berhasil memetakan berbagai persoalan kesehatan yang masih menjadi tantangan di wilayah itu.
Kematian Ibu dan Bayi Masih Terjadi
Dari hasil survei, ditemukan bahwa kasus kematian ibu dan bayi di Desa Rancamulya masih terjadi akibat komplikasi kehamilan seperti preeklamsia dan penyakit jantung. Selain itu, angka bayi berat lahir rendah (BBLR) masih cukup tinggi, dan penggunaan alat kontrasepsi di kalangan wanita usia subur tergolong rendah.
Tak hanya itu, kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining kanker leher rahim juga masih minim. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan pendamping.
Pembimbing lapangan, Rita Ratna Dewi, S.Tr.Keb., Bd, menyebut kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran nyata bagi mahasiswa sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar di lapangan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam mendampingi masyarakat mengenali dan mengatasi masalah kesehatan di lingkungannya,” ujar Rita, Kamis (16/10/2025).
Program Inovatif Berbasis Komunitas
Sebagai tindak lanjut dari hasil musyawarah masyarakat, mahasiswa bersama bidan desa dan kader kesehatan merancang berbagai program inovatif berbasis kebutuhan warga. Beberapa di antaranya adalah:
- Nutrisi Pintar Mencegah BBLR, edukasi gizi ibu hamil untuk mencegah berat badan lahir rendah.
- MONES (Kangaroo Mother Care dan Nesting), pelatihan perawatan bayi prematur di rumah.
- UPIL JUMAT (Satu Pilihan KB Sejuta Manfaat), kampanye pentingnya keluarga berencana.
- GRACE (Gerakan Eware Ca Serviks), sosialisasi deteksi dini kanker leher rahim.
- GENIT BABU (Gerakan 10 Menit Membaca Buku KIA), ajakan membaca buku KIA secara rutin.
- ULIN SIAGA BUNDA (Lewat Ular Tangga, Ibu Hamil Lebih Waspada), permainan edukatif tentang tanda bahaya kehamilan berisiko tinggi.
Program-program tersebut disambut positif oleh masyarakat. Kader posyandu dan perangkat desa ikut aktif membantu sosialisasi dan edukasi di setiap RW.
Kepala Desa Rancamulya, Oteng Sulaeman, mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang dinilai membawa dampak positif bagi warganya.
“Kami merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini. Mahasiswa tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat baru bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan,” tutur Oteng.
Dorong Terbentuknya Desa Siaga Sehat dan Mandiri
Dosen pembimbing akademik, Dr. Meti Widya Lestari, SST., M.Keb., menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap hasil kegiatan ini dapat berkelanjutan dan menjadi dasar bagi program kesehatan desa. Target akhirnya adalah terbentuknya Desa Siaga Sehat dan Mandiri,” jelasnya.
Secara keseluruhan, pelaksanaan Stase Komunitas di Desa Rancamulya dinilai berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak, deteksi dini penyakit, serta penerapan gaya hidup sehat.
Melalui pendekatan kolaboratif antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi contoh praktik baik dalam pemberdayaan kesehatan berbasis komunitas di Kabupaten Sumedang.
