Sumedang – Longsor yang melanda kawasan Surian sejak 23 November lalu, terus meluas dan masih berpotensi terjadi susulan.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Kelompok Tani Ancol 2 sekaligus anggota BPD Desa Pamekarsari, Apip Jailani, di Kantor Desa Pamekarsari Kecamatan Surian, pada Jum’at (12/12/2025) siang.
Kejadian itu tidak hanya membuat puluhan petani gagal panen, melainkan juga menimbulkan krisis air bersih yang meluas ke 3 Desa.
“Awalnya, kejadian ini baru terdeteksi warga pada pagi hari ketika sumber air yang biasa digunakan tiba-tiba hilang, sementara itu longsor sudah mencapai skala yang cukup besar,” Tuturnya.
Seluas 15 hektar lahan pertanian produktif terendam longsor, meliputi 9,5 hektar sawah yang tinggal seminggu lagi dipanen dan 5,5 hektar perkebunan kayu, pisang, dan lada yang hancur total.
Ia menyebut, Program Padi Gogo yang baru dijalankan pun rusak parah. Sekitar 20 petani kehilangan mata pencaharian utama dengan kerugian ekonomi yang diperkirakan sangat besar.
Di samping itu, perbaikan infrastruktur terkendala keterbatasan anggaran, dan kondisi lokasi yang masih berbahaya untuk diakses para pekerja.
“Kita butuh bantuan pangan segera. Untuk jangka panjang, dukungan rehabilitasi lahan, alat, dan biaya pengolahan sangat dibutuhkan ketika area dinyatakan sudah aman nanti” ujarnya.
Apip menerangkan, pihak pemerintah sendiri saat ini sedang menilai anggaran perbaikan saluran air, mengevaluasi keselamatan kawasan longsor.
“mengkoordinasikan bantuan makanan kepada petani terdampak dan menyusun program rehabilitasi lahan.” Katanya.
Terpantau langsung di lapangan oleh Tahuekspres.com, sejumlah perangkat Desa, Camat, TNI dan BPBD Kabupaten Sumedang telah melakukan koordinasi penanganan bencana longsor tersebut.
Ahmad Aradea, selaku Camat Surian pun turut menuturkan terkait dugaan penyebab terjadinya longsor dan upaya-upaya yang akan dilakukanya.
“Pertama memang kondisi tanah yang labil. Kedua, mungkin di duga ada sesuatu yang memang beralih fungsi dari hutan ke pertanian rakyat.” Tutur Ahmad.
Dia juga menjelaskan bahwa harus ada gerakan masif terkait reboisasi serta mengembalikan lahan sesuai fungsinya.
“Mungkin kita harus ada gerakan masif berkaitan reboisasi ya! Jadi mengembalikan kepada fungsi lahan secara utuh seperti yang sebelum-sebelumnya.” Ucap Ahmad.
Terkait pasokan air bersih yang diperlukan oleh 3 desa terdampak, Ahmad mengatakan bahwa sementara ini akan dilakukan pengkondisian air dari mata air dan sumur.
“solusinya karena dulu juga di desa Pemkarsari ini ada yang menggunakan kolam, menggunakan sumur, mungkin sementara kita kembali dulu kepada solusi atau kebiasaan lama tersebut.” Katanya menandaskan.**
