Site icon Tahu Ekspres Sumedang

Jika Fenomena Gibah Masih Marak di Lingkungan Warga Sumedang, Ini Dampaknya bagi Keharmonisan Sosial

Ilustrasi Fenomena Gibah di Kalangan Masyarakat Sumedang (Foto : Istimewa)

Sumedang — Sejumlah penelitian ilmiah di bidang psikologi sosial menunjukkan bahwa kebiasaan bergosip atau ghibah berdampak buruk terhadap kesehatan mental dan merusak hubungan sosial dalam sebuah komunitas. Temuan tersebut dinilai sejalan dengan fenomena sosial yang masih kerap ditemui di lingkungan masyarakat Kabupaten Sumedang.

Dalam berbagai kajian yang dipublikasikan di jurnal internasional seperti Frontiers in Psychology dan BMC Psychology, gosip negatif disebut dapat memicu stres, kecemasan, serta menurunkan rasa saling percaya antarindividu. Dampak tersebut dinilai semakin terasa pada lingkungan masyarakat kecil dengan interaksi yang intens, seperti di tingkat RT dan RW.

Menanggapi kondisi tersebut, Aktivis Muda Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumedang, Erfin Nur Husein, menilai kebiasaan ghibah tidak bisa lagi dianggap sebagai obrolan ringan semata, terutama jika sudah menyentuh urusan pribadi orang lain.

“Ghibah sering dianggap hal biasa, padahal dampaknya sangat serius. Secara agama dilarang, dan secara ilmiah juga terbukti merusak kesehatan mental serta keharmonisan sosial,” kata Erfin saat diwawancarai Tahu Ekspres, Minggu (4/12/2025).

Ia menyebutkan, praktik ghibah kerap muncul dalam obrolan informal, mulai dari arisan, kegiatan sosial, hingga percakapan di grup WhatsApp lingkungan. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa memicu kesalahpahaman dan membuat orang yang dibicarakan merasa tertekan.

Dalam pandangan Islam, ghibah merupakan perbuatan yang dilarang keras. Larangan tersebut tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12, yang mengibaratkan perbuatan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia.

Menurut Erfin, larangan tersebut selaras dengan temuan ilmiah modern. Ia merujuk sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa individu yang berada di lingkungan dengan tingkat gosip tinggi cenderung mengalami kelelahan emosional serta rasa tidak aman dalam berinteraksi sosial.

“Kalau lingkungan sudah dipenuhi gosip, rasa saling percaya akan hilang. Ini bukan hanya berdampak ke individu, tapi juga ke ketahanan sosial masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kajian jurnal keislaman di Indonesia yang menyebutkan bahwa ghibah berpotensi berkembang menjadi fitnah apabila informasi yang disampaikan tidak utuh atau dilebih-lebihkan. Hal tersebut dinilai bertentangan dengan nilai ukhuwah dan adab bermasyarakat.

Erfin mendorong adanya edukasi sosial berbasis nilai keagamaan dan literasi komunikasi, khususnya di lingkungan keluarga dan komunitas ibu-ibu. Menurutnya, menjaga lisan merupakan langkah awal membangun masyarakat yang sehat dan harmonis.

“Kita perlu membiasakan diri untuk berbicara hal-hal yang bermanfaat. Jika tidak penting dan tidak membawa kebaikan, lebih baik ditahan,” pungkasnya.

Exit mobile version