Kategori
Islam

VIRAL ORTU SANTRI HARDIK PIMPINAN PESANTREN

Anggota Komisi VIII DPR RI F-PKS, Nurhasan Zaidi, mengungkapkan keprihatinannya atas sikap kasar orang tua santri kepada kyai pimpinan pesantren di Riau dalam video yang viral di masyarakat.

Anggota Komisi VIII DPR RI F-PKS, Nurhasan Zaidi, mengungkapkan keprihatinannya atas sikap kasar orang tua santri kepada kyai pimpinan pesantren di Riau dalam video yang viral di masyarakat.

“Sangat disayangkan, kenapa kejadian seperti ini terus berulang? Bila ada sesuatu yang terjadi, wali santri harusnya berkomunikasi dan mengklarifikasi dengan tetap menjaga adab dan wibawa Guru”, ungkap Nurhasan di Jakarta, Kamis (5/3/20).

NURHASAN : Prihatin, kawal Revisi UU Guru dan Dosen untuk Jaga Kewibawaan para Pendidik dan Lembaga Pendidikan!

Politisi PKS yang juga pimpinan salah satu Ormas Islam ini menjelaskan bahwa Lembaga Pendidikan khususnya pesantren punya sistem dan aturan dalam proses pendidikan santrinya, wali santri seharusnya menghormatinya sebagai bagian dari kesediannya menitipkan anaknya ke lembaga tersebut.

“Untuk itu kita minta pemerintah dalam hal ini kanwil Kemenag hadir untuk mengislahkan mereka, klarifikasi masalahnya dan carikan solusi, disinilah fungsi program dan anggaran pembinaan kepada lembaga pendidikan keagamaan”, ujarnya.

Nurhasan melanjutkan bahwa orang tua santri dalam video yang viral tersebut juga selayaknya meminta maaf kepada pihak pesantren dan masyarakat secara terbuka. 

“Sudah  terlanjur viral, tak bisa dibayangkan bila hal ini dibiarkan tanpa ada permintaan maaf secara resmi dari yang bersangkutan. Jelas akan menimbulkan efek yang negatif bagi kewibawaan Guru dan lembaga pendidikan di mata masyarakat. Apalagi konon yang bersangkutan ASN, ini bahaya bagi pembentukan karakter bangsa”, tegasnya.

Menurut nya ada yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan Indonesia. Untuk itu, pihaknya akan mendorong terus Komisi terkait agar revisi atas UU Guru dan Dosen yang telah masuk dalam Prolegnas prioritas tahun ini agar segera di bahas dan di rarampungkan.

“Kita akan kawal agar para pendidik di semua lembaga pendidikan termasuk pendidikan keagamaan dapat terlindungi kewibawaannya supaya masalah serupa tidak lagi terulang”, pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *