Opini

Senandika Perasaan, Sepenggal Jiwa Tertikam Rasa

Konsep mencintai itu sulit diejawantahkan hanya dengan teori tanpa empiris yang dirasakan setiap insan, mencintai dalam hal seperti demikian begitu luas maknanya, berbagai macam versi di jelaskan dalam sudut pandang yang berbeda-beda, pasang surut perasaan yang menggebu menjadi suatu faktor manusia bertingkah, berlaku, termasuk daripada mencintai.

Penulis mengerti bahkan pembaca mungkin tahu dengan beberapa kisah dongeng cinta yang sangat fenomenal seperti, Rahwana dan Sinta, Zainudin dan Hayati, namun pada kenyataannya kisah tersebut punya ranah tersendiri, tidak selalu semuanya berakhir dengan melow yang membuat pembaca suka, dari kenyataan tersebut kita tahu dan mengerti bahwa perasaan mencintai, mengagumi, menyukai tidak selalu tentang akhir yang indah, terbukti dengan contoh kisah diatas pembaca terkagum-kagum dengan kisahnya meskipun tidak dengan akhir yang bahagia, bahkan dengan akhir cerita yang membuat daripada salah satu tokoh mati. Rahwana sang penguasa Alengka mati, Hayati pujaan hati, sang kembang desa Mati.

Pembahasan akan dasyatnya cinta pun tidak luput dari analisis intelektual, menarik, dengan tokoh intelektual sekaligus sorang filsuf yang penulis kutip yaitu Kanjeng Plato, dirinya mendefinisikan cinta sebagai satu entitas yang merupakan sumber kekuatan dan energi yang luar biasa, yang artinya begitu luas, mengingat seorang “Kanjeng Plato” (sebutan dari penulis) selain daripada filsuf dirinya adalah seorang matematikawan yang punya mindset terukur secara kuantiti, makanya dirinya menguraikan cinta sebagai entitas yang terbagi antara energi atau kekuatan yang secara hakikat dari keduanya dapat diukur.

Sebuah ketidakmungkinan setiap insan dapat memahami cinta karena cinta bukanlah objek yang mudah untuk diteliti, misteri cinta hanya dapat dimengerti oleh individu-individu yang sedang merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, seperti yang tadi penulis katakan di paragraf awal, Cinta itu dirasakan (empiris), Cinta merupakan sebuah perjalanan hati yang sangat kuat dan kaya kaitanya dengan hal personal yang dijalani dan dirasakan oleh setiap manusia yang saling mencintai.

Sepenggal Jiwa Tertikam Rasa

Kembali kepada dongeng kisah cinta, karena penulis yakin, tidak semuanya pembaca suka pada hal yang bersifat kaku seperti definisi yang Kanjeng Plato sampaikan tadi yaitu Cinta dan ukuran, penulis hanya basa-basi menyampaikan pesan bahwa tokoh seperti demikian pun tidak buta dengan Cinta bersamaan dengan pandangannya secara intelektualnya.

Hey, ayo, hey, seorang pemuda berbicara dalam lamunannya, perasaan yang sakral itu tidak seperti asap rokok yang dihisap lalu dikeluarkan dan menghilang mengudara sampai terlihat dan tercium, perasaan bingung, murung merenung dalam hati berteriak, kembali lagi ke tempat dimana kaki kanan pertama berpijak, ayunan tangan bergandengan menanjak. Cinta adalah kekuatan yang tulus dan jujur, juga damai, anti kekerasan untuk menapaki kehidupan yang kaya warna dan beraneka ragam ini, untuk itu, Cinta bisa mengatasi dan melampaui apa saja, bahasa, agama, ideologi, dan seterusnya. Seseorang yangmenganut falsafah Cinta bisa dengan leluasa mencari di semesta kesadaran, sayangnya cinta seperti dua mata pisau, kamu tertikam atau kamu menikam, penggalan harapan, penggalan rasa dari dirinya yang pernah ada bersama dalam bahtera menuju satu kesatuan tujuan.**

Oleh : Ridwan Marwansyah, S.Hum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button