Agama

Bangga Menjadi PUI

Apakah tak ada lagi kebanggan yang tersisa dari PUI kita? Ya, PUI (Persatuan Ummat Islam) adalah ormas yang konon sejarahnya telah membentang selama 105 tahun. Konon memiliki ribuan sekolah dan lebih dari 5 juta warga PUI di seluruh Indonesia. Konon pendiri PUI adalah para pahlawan yang ikut mendirikan Republik Indonesia melalui BPUPKI. Konon PUI adalah pendiri Masyumi yang saat itu berupa federasi dengan anggota 4 ormas : NU, Muhammadiyah, Perikatan Umat Islam dan Persatuan Umat Islam (dua terakhir melebur menjadi PUI yang kita kenal saat ini). Masyumi inilah yang menjadi soko guru berkembangnya peradaban Islam Indonesia di abad modern.

Dengan seabrek sejarah luar biasa ini, mengapa hampir tidak ada kebanggan atas PUI yang tersisa dari diri kita sebagai anggota PUI, sebagai pelajar PUI, Mahasiswa PUI, warga PUI???. Apakah kita tidak memiliki kebanggan karena tidak ada tokoh PUI yang menjadi Presiden, Menteri atau Gubernur?. Apakah kita kehilangan kebanggaan karena tidak mampu mencetak kader terbaik seperti K.H. Abdul Halim, K.H. Ahmad Sanusi, dan Mr. R. Syamsuddin?. Ataukah karena kita tak seperti NU dan Muhammadiyah yang terlah menjadi ‘raksasa’ ormas Islam?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bangga artinya berbesar hati atau merasa gagah karena mempunyai keunggulan. Tapi jangan menggunakan bahasa sunda yang artinya “susah/repot” karena untuk menyatakan rasa kebanggaan kata yang tepat dipakai adalah ‘reueus’. PUI punya segala keunggulan dan kebanggan sejarah di masa lalu. Kebanggaan atas perjuangan founding fathers PUI dan konsistensi mereka atas nilai-nilai perjuangan. Kebanggan atas kiprah dan karya mereka yang tak akan lekang termakan waktu.

Tapi romatisme dan nostalgia tidaklah cukup untuk membanggun kebanggan kita hari ini. Ingatlah, ada banyak artefak, fosil, prasasti bahkan monument seperti candi yang juga menggambarkan kejayaan sebuah peradaban atau komunitas di masa lalu. Namun mereka kini hanya tinggal sejarah, beberapa bahkan nyaris tanpa penerus yang melanjutkan kisah indah mereka. Apakah kita ingin PUI menjadi seperti ini?. Bila tidak, maka kita hanya punya satu cara: membangun kebesaran dan kejayaan di masa kini, dengan ukuran dan cara yang terbukti efektif untuk kehidupan masa ini.

Yang pertama harus dipahami adalah, PUI adalah organisasi yang dibangun oleh manusia abad 19 (pra baby boomers), demikian pula top leader PUI saat ini kebanyakan adalah generasi X yang lahir di periode 1964-1980. Sementara generasi yang menjadi objek aktivitas utama PUI (pendidikan) adalah generasi Z bahkan generasi alpha. Perbedaan generasi bukan saja soal perbedaan usia, tapi juga perbedaan budaya, cara hidup, nilai bahkan ukuran kesuksesan juga berbeda. Generasi Z & alpha, misalnya, tidak merasakan spirit perjuangan kemerdekaan atau Reformasi, sehingga nilai dan ukuran nasionalisme dan patriotisme mereka berbeda dengan orang-orang tua yang kini ada di pucuk pimpinan PUI.

Perbedaan generasi ini juga menentukan apa nilai, agenda dan ukuran kebesaran dan kesuksesan PUI di zaman digital ini. Rasanya tidak berlebihan bila adik-adik kita generasi Z dan alpha inilah yang lebih mengetahui apa nilai dan parameter kesuksesan dan kebesaran sebuah organisasi di era saat ini. Mungkin seperti pemuda Soekarni dkk di perkumpulan ‘Menteng 31’ yang berhasil menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdeklok hingga Proklamasi dimajukan jadi 17 Agustus 1945. Terasa rebel, tapi generasi muda lah yang punya visi dan definisi kebesaran sehingga berjuang mewujudkannya.

Mungkin inilah saatnya PUI merumuskan definisi kebesaran yang ingin dibangun di era saat ini. Dengan definisi yang relevan dengan realitas zaman, bahkan visioner membaca peluang di zaman yang akan datang. Dengan begini kita antar generasi bisa bersinergi menyiapkan pejuang-pejuang dan pahlawan-pahlawan baru yang akan menghantarkan Indonesia pada era kejayaan dan membawa PUI pada kebesarannya. Inilah kebanggaan baru yang ingin dan harus kita rajut. Cukuplah romantisme sejarah dan perjuangan masa-masa membangun kembali PUI kita lalui. Dengan modal sejarah, kita susun batu bata peradaban ke depan dengan manusia-manusia baru (yang mungkin saat ini masih pelajar, mahasiswa, atau pemuda). Estafet perjuangan harus berlanjut, generasi kita harus bisa mempersiapkan generasi baru untuk lebih sukses dan membanggakan PUI kita. Wallahu’alam bishawab…

Ditulis oleh : Raizal Arifin / Sekjen DPP PUI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button